Ada apa dengan artificial intelligence (AI)? Banyak orang, termasuk Indonesia jadi lebih sering membicarakan masa depan khususnya kecerdasan buatan atau yang sering disebut AI. Apa itu AI? Kenapa orang-orang jadi membicarakannya dan bahkan kuatir dengan masa depannya?

credits to Semi.org

AI adalah ….

Sederhananya, AI adalah kecerdasan buatan yang diterapkan pada mesin dengan cara berpikir yang menyerupai cara manusia berpikir. Namun, AI harus belajar dan bahannya adalah data. Singkatnya, semakin banyak data untuk dipelajari semakin pintar AI. Prinsipnya sama bukan dengan manusia? Semakin banyak belajar data, kita semakin bisa mengambil keputusan lebih baik. Bedanya, kita memiliki sisi emosional, batasan fisik. Kita bisa lelah dan stress saat mengerjakan suatu pekerjaan dan bisa terdistraksi, sedangkan mesin tidak. Kita cenderung kelelahan untuk pekerjaan repetitif, namun berbeda dengan mesin yang tidak pernah lelah kita suruh-suruh selama daya listrik terhubung. AI bisa melakukan tugas repetitif dalam hitungan menit bahkan detik, dan bisa berinteraksi dengan manusia. Kok?

Lo pasti tau Google Assistant, Siri, Cortana, Alexa. Mereka asisten virtual yang mau aja kalau lo suruh buat pengingat, ajak ngobrol, bikin agenda dan bahkan simpan semua rahasia lo. Mereka adalah buah dari AI. Cerdas bukan? Diminta telepon seseorang, mengartikan bahasa asing, nyalain lampu dan AC rumah juga bisa. Ternyata AI memudahkan kehidupan kita, yekan?

credits to dribble.

Pernah dapet rekomendasi belanja atau pertemanan di media sosial atau e-commerce? Algoritma tersebut merupakan implementasi dari AI. AI menjadi sangat ahli untuk memberikan rekomendasi berdasarkan preferensi kita saat kita membeli atau melihat suatu produk. Begitu juga saat nonton Youtube, baik sebelum-sesaat-sesudah menonton pasti ada rekomendasi yang entah darimana perasaan engga pernah subscribe atau lihat akunnya tapi nongol. Di zaman sekarang, sebagian besar perusahaan sudah menerapkan AI pada algoritma dan sistemnya.

Kenapa orang-orang jadi kuatir?

Lee Sedol merupakan seorang grandmaster catur go asal Korea Selatan yang bertanding melawan AlphaGo milik Google DeepMind. Manusia melawan AI dalam pertandingan go. Tebak siapa yang menang? Dalam 5 pertandingan, AlphaGo menang 4-1 atas Lee Sedol.

credits to Time Magazine.

Siapa yang tidak tau DotA 2? Game populer di kalangan anak muda ini selalu mengadakan pertandingan antar pemain. Tim yang bernama OG melawan OpenAI Five milik OpenAI. Kali ini tebak siapa yang menang? OpenAI Five menaklukan tim OG yang mana adalah pemenang kejuaraan The International 2018. Dikutip dari pernyataan Greg Brockman, co-founder dan chairman dari OpenAI, “dalam kehadirannya (OpenAI Five) selama 10 bulan, ekuivalen dengan 45.000 tahun permainan Dota 2. Itu banyak banget, dan belum bosen bertumbuh.”

Kalau begini kesannya AI yang powerful diciptakan untuk menindas reputasi manusia ya? Sebenarnya tidak. Melalui pertandingan tersebut, OpenAI ingin menunjukkan bahwa batas permainan bisa dinaikkan tanpa mengurangi kesenangan dalam bermain. Bersama OpenAI Five, pro players bisa berkolaborasi dan melatih diri dan mendorong batas lebih jauh lagi keahlian yang mereka miliki.

Kenapa AI?

Di blog gue sebelumnya tentang Satya Nadella, dia menyatakan Microsoft sedang berinvestasi untuk memimpin dalam tiga teknologi kunci: mixed reality, quantum computing, dan AI. Biasanya kita memprogram komputer untuk menghasilkan sesuatu, sekarang kita memprogram komputer untuk belajar agar komputer tidak hanya meniru namun menemukan solusi baru yang lebih baik dalam memecahkan masalah. AI doesn’t just work, it analyzes too.

Mesin mendapat pelatihan dasar, tetapi dengan berjalannya waktu dia bisa belajar sendiri sehingga tak memerlukan pemrograman lagi. Misalnya, sistem dilatih mengetahui apa yang harus diilakukan jika ada orang di lobi, berhenti untuk menerima telepon atau memungut pena yang jatuh ke lantai? Sistem mulai mengambil kesimpulan, belajar dan memprogram dirinya sendiri.

Tesla merupakan perusahaan mobil listrik terkemuka milik Elon Musk. Bukan hanya tentang energi listrik dan hematnya biaya servis mobil, namun mobil Tesla telah diimplementasikan fitur auto pilot yang bisa mengendarai tanpa kita kendalikan. Hal ini membuktikan bahwa AI dan manusia bukanlah air dan minyak, namun kalo gue bisa bilang adalah partner. Bagaimanapun, meski ini auto pilot bukan berarti manusia harus percaya penuh. Manusia juga bisa mensupervisi yang dilakukan AI. That’s how it works! AI yang melakukan, manusia yang supervisi. Ibarat di proyek, AI itu tukangnya dan kita pengawasnya. Kita harus jadi partner dengan AI, bukan menolak eksistensinya!

credits to Teslarati.

Masa Depan Manusia dengan AI

Apakah pertumbuhan pesat AI akhirnya dianggap membantu atau merugikan umat manusia? Satya di dalam bukunya menjawab bahwa “untuk memastikannya, kita harus mulai dengan lepas dari pola pikir mesin melawan manusia.” Ternyata fundamentalnya bermula di pola pikir guys! Jangan salah, AI inilah prestasi hebat ilmu pengetahuan dan rekayasa teknik. Namun, masa depan menjanjikan sesuatu yang lebih hebat daripada sekadar komputer mengalahkan manusia dalam permainan. Akhirnya, manusia dan mesin akan bekerja sama – bukan melawan satu sama lain. Bayangkan kemungkinan yang terjadi jika manusia dan mesin bekerja sama memecahkan tantangan terbesar masyarakat: penyakit, kebodohan, dan kemiskinan.

Prinsip dan tujuan perancangan AI menurut Satya adalah 1) AI harus dirancang untuk membantu kemanusiaan; 2) AI harus transparan – bukan sekadar kecerdasan buatan melainkan kecerdasan simbiosis; 3) AI harus memaksimalkan efisiensi tanpa menghancurkan harga diri manusia; 4) AI harus terjaga dari bias sosial dan budaya; 5) AI harus dirancang untuk privasi yang cerdas; 6) AI harus memiliki akuntabilitas algoritma.

Lawan atau Kawan?

Kemajuan teknologi secara konsisten membuat mayoritas pekerja seharusnya menjadi lebih kaya, bukan lebih miskin. Entrepreneur, insinyur, dan ahli ekonomi harus mengadopsi suatu “tantangan agung yang baru”: sebuah janji hanya merancang teknologi yang melengkapi, bukan menggantikan manusia sebagai pekerja. AI harus jadi kawan karena tujuan AI diciptakan memang untuk menunjang kebutuhan dan produktivitas manusia. Itu sebabnya Satya mengatakan harus melepaskan pola pikir AI lawan manusia.

Banyak manfaat AI untuk kehidupan manusia, misalnya membantu kita yang gagu jadi bisa berkata-kata jelas, atau kita yang kakinya teramputasi bisa berjalan normal bahkan memanjat gunung. Supaya pikiran lo lebih paham dan luas, coba lo tengok Youtube Originals judulnya The Age of A.I.

credits to Technosightz.

Tapi yah menurut gue, kalau memang engga mau digantikan oleh AI di masa depan, kita harus upgrade skills kita ke digitalisasi. Mungkin bagi gen X dan boomer boleh agak santai menanggapi ini, tapi bagi gen Y dan seterusnya membekali diri dengan digitalisasi merupakan suatu keharusan.

Misal kalo lo yang kerja di proyek, penguasaan perangkat lunak adalah keharusan seperti AutoCAD dan BIM. Kalo lo yang kerja di pemasaran, digital marketing adalah keharusan seperti SEO, Facebook ads, Instagram ads, Google ads. Kalo lo kerja di rumah sakit, penguasaan perangkat lunak dan keras adalah keharusan. Tujuannya cuma satu, biar kalian lebih produktif dan efisien terhadap waktu. Coba baca Kado yang Sama, di sana gue bahas manusia baik miskin maupun kaya memiliki resource yang sama. So, time to upgrade our skills gengs. Cheers!

Ketika sejarah dibuat di Kitty Hawk, itulah momen saat manusia bersama mesin – bukan manusia melawan mesin.

Satya Nadella, Hit Refresh hal. 294

Join the Conversation

  1. Unknown's avatar

1 Comment

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started