Take Profit Investasi Bitcoin Selama 5 Tahun

credits to unsplash.com

Di masa sekarang, orang Indonesia udah mulai melek istilah-istilah ekonomi. Apa-apa sekarang ngomongin investasi, financial planning, pensiun di usia muda, atur keuangan dan utang, dan lain-lain. Sebelum booming tentang investasi, gue termasuk beruntung yang udah kenal istilah investasi, cuma engga tau aja instrumennya apa-apa aja saat itu. Di postingan kali ini, gue coba bagi pengalaman saat nuker rupiah gue buat sejumlah bitcoin, kemudian saat tahun ke-5 gue tukerin ke rupiah lagi.

Bitcoin dan Investasi

Bitcoin merupakan crypto currency yang lagi “hot” dalam 1 dekade terakhir. Pada dasarnya bitcoin diciptakan untuk transaksi di internet tanpa menggunakan perantara alias tidak menggunakan jasa bank. Bitcoin menggunakan sistem peer to peer (P2P). Hanya saja, sistemnya bekerja tanpa penyimpanan atau administrator tunggal di mana Departemen Keuangan Amerika Serikat menyebut bitcoin sebagai sebuah mata uang yang terdesentralisasi. Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini.

Kenapa kepikiran investasi? Dulu pernah dengerin sermon siapa lupa, tapi beliau nyampein topik tentang berbuah dengan cara investasi diri, tapi ngejelasin dengan komparasi menabung versus investasi. Tujuan investasi yang gue nangkep adalah supaya uang gue engga tergerus dengan inflasi. Beda kalau menabung. Engga salah nabung di bank, tapi kalau cuma nabung, duit lo dapet penambahan bunganya jauh lebih sedikit. Belom lagi makin ke depan, inflasi makin naik. Iya, kayak harga bakso satu porsi dulu Rp 2000 sekarang udah Rp 13000. Jadi hasil uang yang lo “endepin” engga maksimal.

Kenapa Bitcoin?

Feeling. Sumpe cuma feeling tjoy. Dari SMA gue suka ngikutin teknologi berkembangnya kemana kan, kayak (dulu) oh kamera hape ada pake teknologi OIS, atau oh (dulu) Microsoft ngeluarin layanan cloud storage, dan seterusnya. Dan sampai di titik gue ketemu berita tentang bitcoin.

Dari baca-baca berita tentang bitcoin, terus join thread di Kaskus, bayangan gue terhadap bitcoin makin tergambarkan. Gue melihat bitcoin ini adalah “sesuatu” yang bisa digunakan sebagai alat bayar utama di masa depan; serta masih luas potensi untuk dikembangin. Beneran deh, gue engga pernah baca literasi ataupun fundamental analysis buat bitcoin. Gue beli cuma atas dasar percaya kalo di masa depan si bitcoin bakal jadi hal yang primer. Sama halnya gue percaya tentang internet, cloud computing, dan AI yang bakal jadi hal primer di masa yang akan datang.

Long story short, sekarang bitcoin udah jadi komoditas legal (sudah ada marketplace-nya untuk trading), termasuk di Indonesia. Bukan mata uang untuk transaksi loh ya, BI pun tegas melarangnya.

Beneran Take Profit dari Bitcoin bro?

Nih gue ceritain. Semua berawal dari Juli 2014. Join thread di kaskus, ikut nimbrung tanya-tanya seputar bitcoin. Kalau kata rakyat kaskus “no pic, hoax”, nih ane kasih pic-nya biar ga bohong. Di tahun segitu, lagi marak nambang bitcoin either pake komputer dan VGA card sendiri; atau bayar cloud mining services pake bitcoin (btc). Karena gue kepikiran konsep investasi yang tadi, gue kepikiran mau beli sejumlah kecil bitcoin buat gua bayar ke cloud mining selama 5 tahun (kalo gak salah inget).

Yaudin deh, gue private message (PM) ke salah satu user yang punya dan ngejual btc-nya tapi gak dijual publik waktu itu. Kenapa gak beli yang legal? Dulu situs Bitcoin Indonesia sih udah nongol yah, tapi somehow ribet kudu registrasi dan lama verifikasinya. Jadi, hamba beli ke kaskuser deh. Liat, gue cuma beli 0.04 btc dengan harga Rp 300000an.

Setelah aksi saling transfer Rp dan BTC, mulailah gue ke website Cloud Mining buat sewa mining-nya biar bisa nambang BTC. 1 tahun berlalu, gue liat hasilnya mulai ada. Tahun ke-2 berlalu, gue liat hasilnya udah mulai nambah. Tahun ke-3 berlalu, gue liat hasil tambangannya udah mau balik modal. Karena gue percaya konsep investasi, yaudah saat itu gue lebih “tutup mata” karena tau ke depannya pasti bakal untung.

Iseng buka kaskus thread bitcoin, ternyata pada bahas cloud mining-nya bubar dong aka SCAM. Gue syok! langsung buru-buru buka wallet ngecek, ternyata btc gue dari hasil tambang dibalikin, tapi cuma 0.03 btc. Syuuutt rugi 0.01 btc! Tahun 2017 awal kalo gak salah, zaman skripsi, gue udah males banget sama bitcoin. Maksudnya, yaudah gue yang beli gue yang bertanggung jawab. Toh gue beli kan atas dasar kesadaran gue juga, kaga bisa nyalahin siapa-siapa dan ga ada untungnya juga. Udah deh gue diemin.

Tahun 2018 itu gue udah kerja di Balikpapan. Terus ada rekan kerja baru yang dimobilisasi dari proyek Jakarta. Ini orang unik. Kami kan kalau pergi ke proyek selalu barengan. Dia ini setiap pagi selalu nongkrongin harga Bitcoin. Makan siang nongkrongin harga Bitcoin juga. Setiap hari begitu. Lupa sih dia punya berapa, intinya gak banyak juga kayak gue 🤣. Dari yang males, lambat laun hati pun jadi lembut buat ngobrolin bitcoin lagi.

Gue iseng nanya ke Ical, sang pemacing ulung yang mantengin harga bitcoin melulu, “bitcoin emang sekarang udah berapa?”. Dia bilang “1 BTC udah 100 juta rupiah”. Gue kaget, karena zaman gue beli belom nyampe 100 juta. Gue ngebatin, tinggi amat. Mulai seneng tuh gue. Tapi saat itu, gue gak nemu cara konversi BTC ke IDR. Gak tau marketplace-nya apa. Yasudah dong, gue anggep gue diemin aja lagi siapa tau masih up-trend.

Setelah hampir satu tahun berlalu, harga BTC malah longsor! Pak Ical yang tadinya semangat mantengin jadi udahan karena ludes. Buat gue sih itung-itungan kasar masih untung jauh, tapi tetep aja kuatir kalau turunnya jauh berarti untungnya dikit dong? Saat itu gue mulai aktif tanya temen-temen gue yang gue tau aktif di dunia per-bitcoin-an. Ketemulah si Indodax, salah satu marketplace yang udah pegang izin untuk perdagangan komoditas crypto currency.

Tanpa pikir panjang, gue buru-buru registrasi, nunggu diaktivasi, dan transfer btc dari blockchain wallet ke indodax wallet. Gue jual semua BTC yang gue punya tanpa mikirin harga BTC saat itu berapa. Karena di saat itu, grafiknya lagi sideways, takut turun lagi. Alhasil BTC yang gue dulu beli dengan Rp 300an ribu berbuah jadi Rp 3,9 juta. Kalau gue itung persentasenya, gue take profit sebesar 1078%. Gilak!

Masih bisa Investasi Bitcoin dari sekarang?

Hemm, kalau dari pandangan gue sih, gue engga rekomen lagi orang-orang untuk investasi yah. Karena basisnya udah jadi komoditas, ya monggo para sesepuh trader mainkan uangmu! Untuk blockchain pasti berkembang di masa depan, tapi kalau bitcoin gue rasa udah nyaman di posisi sekarang karena bukan sesuatu yang wow juga. But who knows?

“Trus hasil investasi bitcoin yang tadi lo kemanain yen?” Gue taro di saham. Gue sekarang investasi di instrumen yang jelas-jelas aja kayak saham, obligasi, reksadana. Saham lebih aman secara hukum tapi terbukti secara historik bahwa compound interest bisa terjadi di sana. Tapi baru 1 tahun sih terhitung sampai saat ini, gak ada yang bisa diceritain banyak.

Belajar apa dari Investasi Bitcoin?

Hal yang gue pelajarin sejauh ini adalah gue beruntung melihat peluang dan gua harus akui bahwa timing is everything! Gue secara gak langsung diajarin betapa benarnya konsep investasi dan gue percaya dengan investasi ketimbang menabung tok.

Mental investasinya juga gue udah dapet. Perusahaan-perusahaan yang gue beli di saham, sekarang masih berdarah-darah tapi gue enggak goyang, karena gue tau tujuan akhirnya kemana. Toh investasi kan long-term, ngapain mikir short-term?

Cerita ini murni dari pengalaman pribadi gue. Kalo lo mau share pengalaman investasi lo juga boleh di kolom komen, biar readers lain yg baca jadi teryakinkan bahwa investasi itu nyata, bukan isapan jempol belaka. Happy investing, cheers!🍻

Elon Musk: Manusia dari Masa Depan

Belakangan ini nama Elon Musk melejit di dunia maya terutama saat peluncuran pesawat luar angkasa buatannya yang membawa astronot NASA ke International Space Station (ISS) bulan Juni kemarin. Selain pesawat luar angkasa, ia juga memiliki perusahaan mobil bertenaga listrik, panel surya, terowongan kilat, dan bidang-bidang futuristik lainnya namun tetap ramah lingkungan. Siapa sih Elon Musk? Di kalangan Indonesia, namanya belum terlalu menjadi sorotan banyak orang. Untuk itu, gue coba ceritain based on buku biografinya.

Continue reading “Elon Musk: Manusia dari Masa Depan”

Artificial Intelligence (AI): Lawan atau Kawan?

Ada apa dengan artificial intelligence (AI)? Banyak orang, termasuk Indonesia jadi lebih sering membicarakan masa depan khususnya kecerdasan buatan atau yang sering disebut AI. Apa itu AI? Kenapa orang-orang jadi membicarakannya dan bahkan kuatir dengan masa depannya?

Continue reading “Artificial Intelligence (AI): Lawan atau Kawan?”

Hit Refresh: Empati, Komputasi, Ekonomi

Dokumentasi pribadi.

Helloo, kali ini gue mencoba mengulik dan meringkas buku yang udah gue baca. Fyi, gue termasuk orang yang punya latar belakang engga suka baca buku bahkan sampai senior year saat kuliah. Long story short, gue pun sadar otak gue harus diisi dengan hal-hal baru maupun mendalami apa yang gue interest. Membangun kebiasaan membaca ini engga jadi dalam overnight. Bener-bener harus lawan rasa malas yang engga ada habisnya. But here i am, buku ini buku ke-3 yang udah gue baca habis dan sekarang lagi baca buku ke-7. Welp, mari kita lihat insights yang bisa didapet dari buku Hit Refresh.

Continue reading “Hit Refresh: Empati, Komputasi, Ekonomi”

Corona Datang untuk Pergi

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Coronavirus (COVID 19) atau yang seringkali disebut Corona adalah keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang (Halodoc). Faktanya semua orang tanpa memandang usia dan status sosial pun bisa terinfeksi virus ini, bahkan atlet sekalipun. Coronavirus disease pertama teridentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, China dan masih berlangsung hingga sekarang. Beberapa hal penting untuk dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus yang tak terlihat ini adalah dengan cara stay at home, lebih sering mencuci tangan, dan jika terpaksa keluar untuk memenuhi kebutuhan pokok lakukan physical distancing serta hindari keramaian. Pertanyaannya: 1) kenapa coronavirus harus membawa kondisi pandemi beserta kehidupan yang serba tidak pasti? 2) bagaimana menyikapinya?

Continue reading “Corona Datang untuk Pergi”

Tidak Cukup Hanya Punya Uang

Jika lo punya uang sekarang, that’s good. Namun punya uang saja tidaklah cukup. Menurut gue, lo perlu pengertian tentang konsep uang dan cara mengelolanya. Kalau engga, uang yang lo miliki akan pergi (terhabiskan) sia-sia.

Continue reading “Tidak Cukup Hanya Punya Uang”

Tiga Puluh Hari Kasih Makan Otak

Hari ini gue mau bagiin sesuatu yang menurut gue it’s a gold. Lebay? Gue pikir engga. Ini berbobot. Gue dengerin podcast selama tiga puluh hari lebih (termasuk ngulang2 episode) sesuai dengan namanya “Thirty Days of Lunch”. Pertama kali gue tau podcast ini pas nonton “Seandainya Usia 20an Udah Tau Ini” di channel YouTube BukaTalks. Ruby, sang pembicara sempat menyinggung alasan membuat podcast ini. Selama tiga puluh hari (episode), dia mau lunch bareng dengan orang yang dia mau belajar sesuatu darinya.

Continue reading “Tiga Puluh Hari Kasih Makan Otak”

Kado yang Sama

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Siapa yang tidak suka diberi kado? Semua orang suka diberi kado. Beberapa hari lalu, gue diberi kado ulang tahun dari pacar gue, dan gue senang serta excited meski hanya terbungkus paper bag. Bayangin, misalnya lo dapet isi kadonya bagus, pasti lo keep dan bahkan lo rawat, yekan? Ditambah lagi jika pemberi kadonya termasuk orang yang berarti (misal pacar, keluarga, sahabat), pasti lo keep pake banget.

Continue reading “Kado yang Sama”

Kelimpahan dalam Kecukupan

Photo by Joanna Kosinska on Unsplash

Ketika konteks kemiskinan atau kekurangan melanda, ide “kelimpahan” merupakan hal yang menarik untuk diperbincangkan. Misalnya, ketika lo sedang dalam kondisi dompet tipis, tiba-tiba teman lo membicarakan tentang bagaimana untuk mendapatkan pendapatan besar (kalau kata “anak UI” freshgrad zaman now, delapan juta ga cukup) dengan usaha yang engga perlu capek-capek amat. Pasti lo excited untuk membahas dan mencari tahu bagaimana bisa mendapatkannya. Namun pertanyaanya, apakah “kelimpahan” yang dimaksud selalu mengenai materialistis? Kelimpahan yang dimaksud adalah bisa menikmati hidup.

Continue reading “Kelimpahan dalam Kecukupan”

Tengok Biji Kopi

Photo by Sonny Ravesteijn on Unsplash

Mentor gue pernah berkata seperti ini, ” kalau lo ga bisa lewatin badai, maka badai tersebut gak bakal pernah bisa lo lewatin.” Menurut KBBI, masalah adalah sesuatu (persoalan) yang harus diselesaikan (dipecahkan). Hidup tidak jauh dari permasalahan. Kalau tidak ada masalah, sejatinya kita akan jadi manusia gampangan, karena masalah adalah resources untuk bertumbuh.

Berdasarkan pengertian KBBI, masalah harus diselesaikan, bukan didiamkan atau tidak dihiraukan. Berangkat dari pemahaman tersebut, gue jadi mengerti bahwa segala permasalahan yang datang perlu disyukuri mengingat salah satu bahan untuk bertumbuh adalah masalah.

Continue reading “Tengok Biji Kopi”
Design a site like this with WordPress.com
Get started